PGP- 1- BONE- FITRIANI – 1.4 – Aksi Nyata
Artikel Refleksi
Latar Belakang
Arus Perkembangan zaman tak terbendung, adab sopan santun yang menjadi ciri khas budaya Indonesia sudah mulai tergerus seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Interaksi dunia maya menjadi mimbar anak-anak saat ini. Anak-anak tak lagi hormat dengan orangtua dan guru, sikap hormat dan peduli terhadap guru semakin tergerus. Sebagai contoh, Seorang Guru berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya kurang lebih 300 meter, pada saat yang sama seorang murid melintas mengendarai motor, jangankan mampir untuk menawarkan tumpangan, mengucapkan sepakatah kata pun tidak. Padahal dulu orang tua kita mengajarkan bagaimana bersikap hormat pada Guru, menyapanya, mengucapkan salam. Ini salah satu tanda bahwa adab murid terhadap guru sudah mulai tergerus. Lain waktu, di tengah masyarakat, adab anak terhadap orangtua pun sudah mulai tergerus. Dibutuhkan pembiasaan untuk melatih murid bersikap sopan dan santun pada semua orang yang berinteraksi dengan mereka. Pun kebiasaan mengucapkan salam, menyapa, dan senyum harus dibiasakan supaya menjadi budaya positif.
Hasil Aksi Nyata
Pembiasaan senyum, salam, sapa, sopan dan santun diawali dengan menyampaikan kepada Kepala Sekolah terkait program dan juga kepada rekan guru untuk bisa mengimplementasikan program ini. Tidak begitu sulit menerapkan salam dan sapa karena sudah biasa diterapkan di lingkup sekolah, hanya saja belum konsisten dan belum menjadi kebiasaan, karena hanya beberapa murid yang sering menerapkannya. Pada Aksi nyata ini kami berkolaborasi dengan semua warga sekolah untuk konsisten menerapkannya. Saya pun menyampaikan kepada murid untuk menerapkan budaya 5 S ini baik dalam lingkungan sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Dalam lingkup sekolah, budaya salam, sapa, senyum dimulai saat masuk di gerbang sekolah, murid menyapa guru dan memberi salam. Dalam pengamatan saya selama kurang lebih sepekan, budaya ini sudah mulai tumbuh, kesopanan dalam bertutur pada guru baik dalam kelas maupun di luar kelas juga sudah mulai diterapkan. Dalam lingkungan masyarakat, saya mengajak murid untuk menerapkan budaya 5 S ini dan meminta mereka menuliskan peristiwa yang menunjukkan penerapan budaya 5 S tersebut. Dan sudah terlihat murid mulai menerapkannya, meskipun belum sepenuhnya konsisten.
Pembelajaran yang didapatkan
Setelah melihat hasil diary murid dan pengamatan di sekolah, terlihat bahwa dengan program ini murid akan terbiasa mengucapkan salam, menyapa dengan santun kepada setiap orang yang ditemuinya. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan positif memang harus dilatih dan terus ditumbuhkembangkan supaya menjadi budaya yang nantinya akan membentuk karakter dari anak didik kita. Untuk melakukan perubahan, dibutuhkan konsistensi dan tahapan serta controlling yang baik.
Rencana Perbaikan
Untuk perbaikan kedepan, dibutuhkan kerjasama tim yang solid antara semua guru, terutama wali kelas dan orangtua murid, agar penulisan peristiwa benar-benar terkontrol dengan baik, sehingga murid merasa bahwa ini adalah tantangan yang harus mereka kerjakan untuk terus menumbuhkembangkan budaya positif tersebut.
Dokumentasi
Berikut ini dokumentasi hasil pelaksanaan budaya 5 S
1. Penerapan 5S di Sekolah
2. Dokumentasi catatan peristiwa penerapan 5S di Masyarakat



















