informasi, teknologi, pendidikan, tips, trik

Selasa, 13 April 2021

Modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi; Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Modul 3.1.a.8

Koneksi Antar Materi; Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh: FITRIANI, CGP Angkatan 1, Kab. Bone

 

Filosofi Pratap Triloka KHD  terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran 

Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana diamanahkan Undang-undang adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia serta mencerdaskan kehidupan setiap warga negaranya. Indonesia bertanggung jawab untuk menjadikan setiap warga negaranya sebagai pribadi yang tidak hanya memiliki wawasan yang luas namun juga memiliki sikap-sikap yang berbudi luhur sebagaimana yang dicita-citakan dalam pancasila.

Bob Talbert pernah berkata: (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”. Saya mencoba menalar makna perkataan Bob Albert, bahwa mengajarkan hal yang berharga/utama adalah yang terbaik. Yang berharga dan utama sebagaimana cita luhur pancasila adalah lahirnya murid yang berpekerti luhur. Dan tentunya untuk melahirkan murid berbudi luhur, mereka perlu dituntun sebagaimana kodratnya dengan memperhatikan kebutuhan murid.

Maka muara pembelajaran adalah agar murid-murid Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari para pendidik yang berkualitas. Sebagai seorang pendidik, sangat penting memperhatikan kebutuhan murid. Filosofi Triloka Ki hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa sung tulada (yang di depan memebri teladan), Ing Madya Mangun Karsa ( yang di tengah membangun kemauan), Tut Wuri HAndayani (dari belakang memberi dukungan dan motivasi). Dalam pengambilan keputusan, seorang pendidik harus berada di depan memberi teladan, dimana keputusan-keputusan yang diambil senantiasa berpihak pada murid.

Nilai, Prinsip Seorang Pendidik dan Kegiatan Terbimbing Berpengaruh Terhadap Pengambilan Keputusan

Sebagai teladan, Guru harus mampu menumbuhkan nilai dalam dirinya yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, pembelajaran diferensiasi adalah bagian dalam upaya pembelajaran yang berpihak pada murid.  Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Kegiatan terbimbing yang dilakukan dalam proses coaching sangat membantu guru dalam membantu murid untuk memberi tuntunan. Peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.  Maka Proses Coaching adalah salah satu bagian yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat berpihak pada kebutuhan murid.

Dampak pengambilan Keputusan yang Tepat Pada Murid

Pembelajaran terkait dilema etika dan bujukan moral mengantarkan seorang guru mampu menemukan nilai dalam dirinya sebagai seorang pendidik. Bagaimana menganalisis masalah dalam studi kasus dilema etika dan bujukan moral adalah bagian penerapan pengambilan keputusan yang tepat, tentunya dengan penerapan sembilan langkah pengambilan keputusan.

Ketika Guru mampu menerapkan nilai-nilai dalam dirinya sebagai seorang pendidik, dengan proses coaching yang dilakukan, dan penerapan sembilan langkah pengambilan keputusan, maka tentunya keputusan yang diambil akan berdampak pada lingkungan yang belajar yang nyaman, positif dan kondusif. Dampak pengambilan keputusan yang tepat dalam pembelajaran dengan memerdekakan murid-murid, akan sangat membantu murid hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi. Terealisasinya pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran adalah bukti implementasi Pratap Triloka Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam dalam pengambilan keputusan dalam lingkungan sekolah pada dasarnya hanya karena pemahaman paradigma yang berbeda, dibutuhkan penyamaan persepsi untuk bisa berjalan beriringan, semua demi kebutuhan murid, sehingga tugas kita sebagai guru penggerak untuk berbagi ilmu dengan rekan sejawat agar rekan-rekan guru juga bisa memahami tentang merdeka belajar yang nantinya diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat yang berdampak pada murid. Mungkin memang tidak mudah, dan akan ada kendala pastinya, namun pendidik harus mampu memberi teladan dan juga membangun kemauan serta memberi dorongan demi terciptanya murid merdeka yang memiliki profil pelajar pancasila.

 

Kesimpulan:

Guru adalah pemimpin pembelajaran, penerapan nilai-nilai pendidik yang mengedepankan kebutuhan murid, penerapan budaya positif, pembelajaran diferensiasi, proses coaching serta proses pengambilan keputusan yang tepat adalah bagian dari proses mewujudkan murid merdeka. Keputusan yang tepat akan membantu murid hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi.

Murid merdeka yang bebas belajar sesuai bakatnya, berinovasi dan berkolaborasi dengan penanaman budaya positif di lingkungan sekolah. Sehingga akan terbentuk murid berprofil pancasila yang bertaqwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, gotong royong, bernalar kritis dan berkebhinnekaan global. Untuk Mewujudkan itu semua, dibutuhkan Kolaborasi Stakeholder untuk menjalankan visinya, agar sinergitas tercipta dan saling menguatkan untuk mewujudkan visi. Kepala Sekolah sebagai pemimpin manajemen dan pengambil keputusan, rekan guru, dan tokoh masyarakat harus saling bekerjasama dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang nyaman dan berpihak pada murid.

 

 

1 komentar:

Cerita Bersinergi (Berbagi Inovasi Pembelajaran Berbasis Digital)

Cerita BERSINERGI Sahabat Teknologi  Fitriani, S.Pd., M.Pd SMAN 13 Bone Haiii sahabat merdeka belajar di mana pun berada, salam dan bahagia....